Minggu, 01 Januari 2012

PEMBUDAYAAN YG TDK BERKEADILAN SOSIAL


Jam menunjukan 01.15 WITA, perayaan penyambutan tahun baru 2012M, baru saja usai. Saya baru saja mau malangkahkan kaki untuk keluar tiba2 hp yg ada di saku celana berbunyi, di layar hp saya terpanpang nama yg tak asing. Begitu riang suara itu dan mengabarkan mereka baru saja usai menikmati hidangan malam tahun baru, yg katanya tdk kalah seru, maklum khabar ini berasal dari jauh hirup pikuk dan dari sebuah pedesaan yg sangat jauh dari perkotaan. Antara gembira dan bingung ,dua ekspresi yg sangat bertentangan dari reaksi akal dan pikiran saya. Gembira karna saudara saya yg jauh sana ternyata mereka mampu menyelenggarakan hidangan tahun baru, bingungnya adalah kenapa kok perayaan tahun baru seperti ini sudah akan membudaya juga di pelesok desa yg konatasinya di sanalah peradaban "mulia" akan tetap terpelihara, artinya hal2 yg menjadi kemubajiran dan penerapan nilai2 sosial tetap akan berlanjut walaupun zaman terus berlanjut.

Pengalihan tahun, seyogyanya menjadi pertaruhan strategi menghadapi tahun yg akan di jalani, dalam waktu ini kita harus mampu mengintropeksi diri baik dari keberhasilan dan kegagalan yg sdh di petik selama setahun yg kita lalui, agar menjadi acuan dlm pertaruhan di tahun yg akan di jalani ini. Perayaan tahun baru yg berlebihan akan menjadi bias dari nilai intropeksi dan sosial.

Pembudayaan perayaan tahun baru memang menambah semangat kebersamaan,tetapi hanya dlm ruang lingkup kecil, yaitu ruang kelompok yg tdk menjamah secara global dan kemasyarakatan, Secara sosiologi, menambah petak2 sosial di dlm masyarakat, ketidak merataan financial dan ekonomi masyarakat inilah penyebabnya.
Perayaan tahun baru di masyarakat kita telah memasuki tahap yg mencemaskan, perayaan secara berkelompok tdk diikuti dgn penjiwaan sosial yg mengabaikan nilai2 sosial di sekitarnya. Peniupan trompet yg memekan telinga, pagelaran musik, mabuk2an dan peledakan kembang api yg pada saat di lakukan mungkin yg kelompok lainnya sedang istrahat.

Perayaan tahun baru telah memprogres masyarakat ketingkat pengelompokan dan indifidual dan pengabaian nilai sila ke 5 PANCASILA, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

0 komentar: