Senin, 09 Januari 2012

MUDAHKANLAH HIDUPMU

Orang miskin selalu berdoa agar sebentar malam makanan selalu akan tersedia, demi menyambung hidup untuk esok hari. Orang kaya selalu berdoa,agar hartanya selalu tdk berkurang dan apapun yg diinginkanya selalu bisa di dapatkannya. Sulit dan mudahnya hidup ternyata tergantung presepktif kita untuk apa kita hidup.Apapun bentuk hidup kita, entah miskin, entah kaya.

Si miskin  terus hanya berpikir hidup itu hanya tergantung makanan, maka ikhtiarnya hanya untuk mendapatkan makanan, maka yg di minta dlm doanya bagaimana di berikan kemudahan utk mendapatkan makanan itu, maka seharianpun pikirannya hanya di penuhi dgn makanan. Si kaya juga dengan demikian, dia tdk cukup hanya dgn harta yg ada, dlm benaknya bagaimana harta itu dapat membebaskannya dari waktu, maka pikirannya hanya penuh dgn strategi untuk mendapatkan harta yg lebih banyak lagi, dan doanya hanya penuh permintaan untuk kemudahan mendapatkan harta itu.

Manusia memang tdk dilarang utk berusaha mendapatkan apa yg menjadi kebutuhannya. Tetapi tidak harus larut secara terus menerus sehingga lupa dgn hakekat hidupnya. Sehingga begitu banyak nya kita dapati manusia hidupnya hanya penuh dengan pekerjaan, yg kadang-kadang harta yg sudah di dapatinya tidak sempat di nikmatinya.Malah ada yang lebih tragis, rumah yg sudah di bangun dgn mahal hanya untuk di sewakan demi uang, dia rela hanya tidur di rumah yg lebih jauh murah.  Sesulit itukah untuk meraih hidup yang kita anggap sebagai kemapanan, sehingga akal pikiran kita bahkan mengorbankan selera demi hanya tertuju pada satu kebutuhan itu?

Padahal Allah SWT telah memberikan lisensi tentang status kehidupan kita sebagai khalifah Allah di atas bumi Allah ini. Dalam Al-Qur'an Terjemahan S. Al – Hadid ( 57 ) Ayat 20 Allah berfirman: Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian ( tanaman ) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.
Di Surat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui. (QS al-Ankabut [29]: 64).  
"Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara), dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal." (QS Ghafir [40]: 39).

Jika kita merujuk ayat-ayat di atas, betapa kita tertipunya kita dengan kesulitan2 yang kita buat sendiri.Betapa tidak berartinya pengorbanan yg telah kita lakukan hanya untuk memuaskan nafsu syahwat belaka. Semestinya hidup ini kita hidup seperti air, mengalir apa adanya. Padahal kita sadari manusia itu terdiri dari jasmani dan rohani, ternyata kesulitan yg kita perbuat itu hanyalah untuk kebutuhan sebagian dari diri kita saja yaitu jasmani.Dan kita melalaikan kebutuhan sebagian diri kita rohani atau jiwa.  Kebutuhan rohani itu sangat menunjang kebutuhan kita selanjutnya di akherat.

Pepatah bijak mengatakan, hidup itu memang tak semudah membalikan telapak tangan, tetapi tak sesulit yg kita takutkan. Maksud pepatah ini adalah ada 2 konsenkuensi yg kita dapatkan dlm hidup ini, yaitu baik dan buruk. Katakanlah "baik" yg di maksud dgn orang kebanyakan, yaitu kaya,hidup serba mudah untuk mendapatkan apa kita butuhkan,sebaliknya juga kata"buruk" yg di maksud adalah fakir miskin serba sulit mendapatkan apa yg di butuhkan.Ternyata dari dua sisi kehidupan itupun bisa sebagai cobaan.kaya atau miskin bukan ukuran mulia atau hina. Kekayaan bisa berarti siksa, sedangkan kemiskinan boleh jadi karunia. Keduanya tak lebih dari ujian, mana yang mulia, mana yang hina tergantung bagaimana masin-masing menyikapi ujian yang mereka hadapi. Nabi bersabda, “Sesungguhnya setiap umat itu menghadapi cobaan, cobaan umatku adalah berupa harta.” (HR. tirmidzi) Ibnu Qayyim dalam tafsir al-Qayyim-nya menjelaskan Surat Al-Fajr ayat ke 15-17 diatas berkata, “Allah mengabarkan bahwa Dia menguju hambanya dengan memberikan kenikmatan dan melimpahkan rezeki atasnya. Allah juga menguji manusia dengan sempitnya rezeki. Keduanya ada
lah ujian dan cobaan. Kemudian Allah menyanggah atas anggapan orang bahwa terbukanya pintu rezeki dan melimpahnya harta adalah bukti allah memuliakannya, dan sempitnya rezeki adalh pertanda Allah menghinanya. Allah menyanggah anggapan itu “Sekali-kali tidak demikian!” yakni, anggapan orang-orang itu tidaklah benar, terkadang Aku menyiksa dengan nikmat-Ku dan memberikan nikmat dengan cobaan-Ku.

0 komentar: