Senin, 23 Januari 2012

GELIAT BISNIS KECIL ORANG-ORANG BUTON DI BALIKPAPAN

Jam menunjukan pukul 23:35 wita, di sudut kota Balikpapan, tepatnya di belakang taman Bekapai, suara musik  masih menggema menghibur pengunjung sebuah cafe jalanan. Memang saat itu pengunjung relatif sepi karna pengaruh cuaca yang tak bersahabat. Balikpapan memang sore tadi di guyur hujan lebat, yang membuat para pedagang kaki lima kalang kabut menggelar tenda-tenda mereka untuk sekedar melindungi dagangan mereka dari terpaan hujan deras sore itu. Tapi tidak menyurutkan semangat para pedagang kaki lima itu untuk tetap melanjutkan dagangannya sampai selesai.

Tersebutlah WOLIO CAFE nama sebuah cafe adalah salah satu di antara puluhan pedagang kaki lima yang ada di Belakang taman Bekapai ini. Cafe ini sangat akrab dengan saya dan penduduk Balikpapan lainnya yang gemar menikmati berbagai jenis jus buah,roti-roti bakar dan jenis minuman kopi lainnya untuk menghabiskan malam, atau sekedar ngobrol dengan teman-teman. Tempat nongkrong satu ini memang sangat akrab dengan rasa dan harga menunya yang sangat pas di kantong saya.

La Mandi atau biasa di panggil bang Rudi adalah pemilik Wolio cafe ini. Pria kelahiran Dusun Wasindoli, Desa Tanailandu, kec. Mawasangka Buton Sultra ini adalah seorang yang sangat supel dan periang, dan komunikasinya pun sangat bagus dengan para pelanggannya. Mungkin inilah salah satu rahasia di balik suksesnya mengelola cafe ini, tentu juga menu yang pas di lidah.
Untuk mengelola cafe ini, La Mandi atau akrab di panggil bang Rudi di bantu 4 orang karyawan, semuanya berasal dari Buton.
Mengawali bisnis ini bang Rudi, bukan dengan kemudahan, apalagi dengan label kaki lima tentu rintangan sangatlah berat, mulai dari Pemkot melalui pol.PP dan perdanya yang saat-saat tertentu datang secara tiba-tiba mengobrak-ngobrik daganganya, tentu dengan alasan ketertiban. Tapi itu dulu, "Alhamdulillah, perjuangan itu saya sudah nikmati sekarang, walaupun tempat ini secara sah belum di berikan, tapi kami sudah di beri izin untuk tetap berjualan di tempat ini, walaupun tidak secara permanen"ujar bang Rudi.
Bang Rudi memang patut bersyukur dengan pemberian izin pemkot ini, setidaknya bisa tenang beberapa tahun kedepan untuk mengais rezeki  menghidupi keluarganya dan membagi rezeki dengan beberapa karyawannya.

Bang Rudi adalah salah satu ratusan perantau asal Buton di Balikpapan ini, yang mencari rezeki melalui bisnis kecil-kecilan seperti ini. Tapi walaupun label kaki lima, omsetnya 40 jutaan loh perbulannya. Ini memang tidak terlepas dari kondusifnya sosial-ekonomi kota Balikpapan yang sangat bagus, yang sangat cocok untuk berinvestasi.

Masyarakat Buton di Balikpapan memang terkenal sebagai pembuat pasar dadakan. Malah pasar-pasar itu sekarang oleh pemkot Balikpapan sudah ada di semi modernkan, seperti pasar Sepinggan, yang awalnya terkenal dengan sebutan pasar Buton.

Orang-orang Buton di Balikpapan yang menjalani pekerjaan bisnismen memang masih bisa di hitung jari , tapi setidaknya dengan adanya beberapa orang yang sudah memulai bisnis ini bisa mengimpirasi yang lainnya, merubah pradigma pola kehidupannya sejajar dengan suku-suku lainnya di Balikpapan yang sudah lebih maju.


0 komentar: