Minggu, 30 Oktober 2011
UNTUK APA BERBUAT

Sejak lahir manusia sudah di suguhi dengan berbagai macam kebutuhan. Tapi itulah yang menjadi kebutuhan agar manusia tetap bisa mempertahankan bahkan untuk bersaing di antara manusia itu sendiri.
Semakin kita tumbuh semakin banyak pula kebutuhan yang akan di kosumsi untuk bisa bersaing atau bahkan untuk sekedar mempertahankan agar tubuh ini tetap menjadi makhluk hidup. Apakah yang di butuhkan itu sudah tersedia dengan sudah ada di depan mata atau harus pula dengan kata"saing" itu untuk mendapatkannya? Tentu ada klasifikasi umur manusia untuk mendapatkan kebutuhan itu dari secara gratis, instan sampai pada memepertaruhkan nyawa sekalipun, mungkin dari usia bayi sampai kanak2 masih serba gratis, tapi sudah mencapai usia 21 keatas yang di kenal dengan usia produktif harus ada yang di perbuat untuk kelangsungan hidup sendiri bahkan untuk orang yang di sekitarnya.
Memang tujuan hidup manusia itu bukan untuk sekedar paparan di atas, tapi untuk memenuhi tujuan hidup manusia yang paling hakiki, harus di barengi dengan tunjangan fisik sehat dengan arti luas yang artinya bukan sekedar kebutuhan pokok yang di butuhkan untuk menunjang itu semua. Tapi lebih dari itu, asupan2 "gizi" lain pun harus ada, apa itu berbentuk materi untuk menunjang kebutuhan fisik maupun ilmu untuk menunjang kebutuhan rohani .
Sejak manusia di takdirkan untuk memenuhi alam jagad raya ini, di takdirkan pula sebagai makhluk untuk berbuat, ini di liat dari tunjangan fisik yang di berikan oleh Maha Pencipta, "Makhluk yang paling sempurna di sisiNya".Karna itu jangan sia-siakan kesempatan untuk berbuat sesuatu yang berguna untuk diri dan orang-orang di sekitar kita, karena memang di takdirkan untuk itu. Wassalam..
Rabu, 12 Oktober 2011
PEMBANGUNAN DESA DARI MODERNISASI KE LIBERALISASI

Desa di Indonesia masih saja menjadi obyek pembangunan hingga lahan pasar bagi modal. Ia adalah faktor penting tetapi terabaikan dan seringkali semata dijadikan obyek perlakuan ujicoba kebijakan pemerintah sebagaimana dapat terlihat dari program-program pembangunan yang diterapkan untuk masyarakat desa.
Modernisasi dalam kadar tertentu baik dan telah terbukti membawa kehidupan masyarakat kedalam taraf peradaban yang lebih cocok dengan konteks jaman saat ini. Akan tetapi pengatasnamaan modernisasi untuk menggolkan proyek pembangunan tanpa memikirkan kearifan masyarakat yang dimiliki desa juga bukan perilaku kebijakan yang tepat.
Pencangkokan model lembaga-lembaga baru yang seringkali dijadikan ukuran kemajuan suatu desa dalam program-program pemerintah terbukti membawa persoalan baru di masyarakat desa. Model dan gaya-gaya pembangunan masyarakat pedesaan yang top down dan memprioritaskan bagi-bagi bantuan (charity) telah membawa dampak tersendiri bagi rusaknya struktur desa, terutama struktur produksi dan struktur kearifan lokal yang dimiliki. Semakin lama masayarakat desa berhitung segala sesuatu dari nilai transaksi keuangan yang menciptakan ketergantungan. Riset yang dilakukan di desa-desa di Sleman dan Kulonprogo Yogyakarta oleh penulis: Tarli Nugroho ini memiliki jangkauan yang nation wide. Spektrumnya menjangkau realitas yang dialami pedesaan lain (atau yang sejenis) di Indonesia. Buku yang di editori Amiddanal Khusna ini cukup singkat, padat, sistematis dan cukup mampu memberikan gambaran kondisi yang dialami desa-desa di Indonesia.
Desa seharusnya tetap menjadi pusat produksi primer seperti pertanian, perikanan, perkebunan dan peternakan. bantuan-bantuan yang masuk ke desa dalam jumlah yang tidak sedikit itu sendiri pada dasarnya merupakan bentuk proses monetisasi (embrio dari kekuasaan uang) atau masuknya struktur modal ke desa dan menguasai sendi-sendi perekonomian serta struktur ketahanan asli yang dimiliki desa itu sendiri.
Pasca di berlakukannya Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah di Indonesia, banyak proyek peng-obyek-an desa yang terjadi. Program-program yang ada dengan kekuatan modal besar yang dimiliki dan membiayai program pembangunan desa oleh negara masih melakukan peng-obyek-an desa. Modal telah merembes ke desa, telah menguasai dan melemahkan struktur ketahanan alami yang dimiliki oleh desa.
Memajukan desa memang betul merupakan niat yang baik, namun upaya untuk menjaga dan melestarikan desa yang memiliki daya tahan bagus, dimana terpenuhi hak-hak ekonomi, sosial, poloitik dan kebudayaannya tetap merupakan hal terbaik yang mesti dikerjakan dan diwujudkan. Buku kritis ini sangat direkomendasikan bagi anda para pengambil kebijakan, mahasiswa, aktivis, pers, NGO, juga 'wong ndeso' yang menginginkan keadilan dan kemakmuran merata dalam menghadapi tantangan global yang hadir saat ini. Selamat membaca. (JW)
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/political-science/1986103-pembangunan-desa-dari-modernisasi-ke/#ixzz1aYZJo7y0
Label:
politik
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
